Pramuka Kader Pancasila

Pancasila sebagai dasar negara merupakan hasil kesepakatan bersama para pendiri bangsa, sering disebut sebagai sebuah “Perjanjian Luhur” bangsa Indonesia. Hampir dua puluh tahun era reformasi, kehidupan berbangsa penuh dengan hiruk-pikuk politik yang membuat masyarakat bingung.

Kehidupan berbangsa dan bernegara marak dengan egoisme politik dan pencitraan diri yang menjelma menjadi suatu kekuatan utama untuk mengendalikan wacana politik. Demi pencintraan diri, berbagai pihak tidak segan-segan menabrak tembok moral dan etika dengan melakukan manipulasi, kebohongan dan tindak kekerasan.

Perubahan ekstrim dalam paradigma politik praktis mempengaruhi psikologi politik masyarakat. Perhargaan atas aktualisasi diri dalam politik seakan mendapat prioritas utama, sehingga semua orang ingin bicara, semua orang ingin didengar, dan semua orang ingin membangun demokrasi.

Oleh karena itu, pendidikan karakter sangat menentukan tingkat keunggulan suatu negara. Salah satu media yang berperan dalam mengembangkan pendidikan karakter yaitu kepramukaan. Karena, di dalamnya terdapat semua kegiatan yang bisa mengembangkan karakter seseorang.

Namun, Pramuka yang dulu begitu “gagah” dan digandrungi, potretnya hari ini dianggap kurang menyenangkan dan kurang diminati. Gerakan Pramuka yang selama ini menempel pada sistem pendidikan formal terlihat terlalu menekankan pemahaman akademis dan kurang menyenangkan.

Gerakan Pramuka di era modern ini dituntut inovatif dan kreatif agar tetap mampu menarik perhatian siswa didik. Ia juga dituntut menjadi gerakan yang fleksibel, menyenangkan, dan tentu tak meninggalkan fungsinya menjadi media pendidikan karakter, pendidikan kebangsaan dan kewarganegaraan, serta pengajaran dan pelatihan soft skill. Kita patut bangga, bahwa hal itu merupakan bagian konsep sila-sila dari Pancasila.

Sementara itu, Gerakan Pramuka adalah nama organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan di Indonesia. Kata “Pramuka” merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti rakyat muda yang suka berkarya. “Pramuka” adalah sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka.

Selanjutnya, “kepramukaan” merupakan metode penyelenggaraan di lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, dan terarah. Ini praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan. Sasarannya akhirnya untuk pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur.

Kepramukaan adalah sistem pendidikan kepanduan yang disesuaikan dengan keadaan, kepentingan serta perkembangan masyarakat dan bangsa Indonesia. Untuk itu, Gerakan Pramuka mengambil peran penting dalam pembangunan karakter bangsa serta wawasan kebangsaan.

Nilai-nilai pembentukan karakter tersebut bagi Gerakan Pramuka adalah galian dari nilai-nilai luhur Pancasila yang menghendaki insan Pramuka melakukan berbagai hal berikut.

1. Berkarakter sesuai Satya Darma Pramuka. Secara ringkas, ada tiga karakter utama, yaitu:
a. Religius. Dalam arti bahwa jiwa dan nilai-nilai agama yang benar melandasi dan mewarnai langkah berindividu, bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat, sehingga membentuk kepribadian yang percaya dan tunduk pada Tuhan yang maha kuasa.
b. Patriotis. Dalam arti cinta tanah air, bela negara, patriot bangsa, bangga dengan negeri sendiri, peduli kepentingan nasional ketika berhadapan dengan kepentingan asing yang merugikan, dan menjaga keutuhan NKRI serta dasar negara Pancasila.
c. Terbuka. Dalam arti menghormati pluralitas sosial bangsa, memiliki sikap toleran pada perbedaan pemikiran, dan menghargai bahwa setiap warga negara punya hak yang sama dalam NKRI

2. Berkompetensi/ Kompeten
a. Terampil, cerdas, memiliki keahlian, dan kepakaran dalam suatu bidang tertentu, di samping memiliki kecakapan hidup yang umum, berwawasan yang mumpuni, berpengetahuan luas dan mendalam. Ia juga dapat diandalkan untuk menuntaskan pekerjaan dan kegiatan, serta dengan kemahirannya dapat mengembangkan dirinya dan masyarakatnya untuk kemajuan peradaban manusia yang tinggi.

3. Berkolaborasi/ Kolaboratif
a. Mampu dan mau bekerjasama, bersinergi, koperatif, tolong-menolong, peduli sesama hidup dan lingkungan hidup, bertindak sosial, mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, team work, networking, menjalin silaturahmi, bekerja secara kolektif, suka bermusyawarah. Ia juga patuh serta berkomitmen melaksanakan keputusan yang telah diambil bersama, melibatkan semua pemangku kepentingan Pramuka khususnya, dan bangsa serta masyarakat umumnya untuk memajukan negara, bangsa, dan masyarakat Indonesia dan dunia.

Oleh: Kak Rioberto Sidauruk

About admin

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*